PERJUANGAN
BELIAU UNTUK AKU
![]() |
ASSABIQUNAL AWWALUN
itulah namaku, Nama pemberian orangtuaku,
nama yang mempunyai arti Orang-orang Pertama
masuk Islam. Ayah memilih nama ini karena menurut beliau Assabiqunal punya sejarah yang menarik
tentang perjuangan kaum Muslimin pada zaman Rasululullah SAW. Ayah pun
memberikan symbol ini kepadaku dengan harapan agar kelak aku bisa seperti
mereka yang dijelaskan dalam kisah itu antara lain Abu Bakar Assiddiq, Umar bin
Khatab, Aisyah.ra, St. Khadijah dan beberapa pengikut Rasulullah yang lain. mungkin
orang-orang kebingungan harus memanggil saya dan menyebut namaku yang
kepanjangan itu.
Aku cukup dipanggil UNA. Aku lahir di Kota Parepare, Sulawesi
Selatan tempat kelahiran Presiden Republik Indonesia yang ketiga Bapak
Baharuddin Jusuf Habibie. Aku melihat
dunia ini pertama kali di Kota tersebut tepatnya di Rumah Sakit Type C Andi
Makkasau pada tanggal 14 April 2014. Anehnya walau ketuban ibuku pecah di
Kampung halaman selama lima belas jam dan sempat dirawat di Puskesmas Palakka
Kabupaten Barru. Sejak pukul 09.15 pembukaan kelahiranku telah sampai pada
pembukaan terakhir disiang itu tanggal 13 April 2014 namun tanda-tanda untuk
melewati pintu antara alam rahim ibu dengan dunia ini tak membuahkan hasil
apa-apa dan akhirnya Ibu pun dirujuk ke
Kota Parepare yang jaraknya limapuluh kiloan dari Puskesmas kampung halaman.
Dengan Ambulance Puskesmas didampingi dua orang bidan dan
beberapa orang dari keluargaku Nenek, Buyut, Tante dan Ayahku, Ibu dilajukan ke
Rumah Sakit Andi Makkasau di Kota Parepare, Sekitar Pukul 22.00 setelah sampai
disana sepuluh menit kemudian aku terlahir dengan selamat. Senyum keluargaku
mulai tergurat di pipinya, Sang Ayah pun ikut tersenyum dan Ibu bidan pun
mempersilahkan Ayah untuk mengadzani aku. Sebagai orang muslim Adzan itu wajib
dikumandangkan bagi bayi yang baru lahir seperti aku agar kelak jika si bayi
beranjak dewasa dapat jadi orang berguna, penurut dan taat ibadah kepada sang
pencipta yakni Allah SWT. Setelah Adzan ayah pun meniupkan doa ke telinga
kananku dan Bacaan Iqomah di telinga
kiriku. Karena Allah punya sifat Jaiz (berkeinginan), walaupun
keluargaku dan handaitaulan pada saat itu berharap aku terlahir di kampung
halaman namun Tuhan berkata lain aku harus terlahir bukan dimana aktifitas
keluargaku melainkan di Kota lain padahal Ibu pernah berprediksi aku rencana
dilahirkan di Kampung dimana ada bidan yang akan membantu persalinan ibuku.
Sempat pula Ayah dan Ibu kebingungan jika harus lahir setelah
dirujuk ke Kota lain, masalahnya apa ?. hanya menyagkut soal administrasi
Instansi. Ayah dan Ibu menikah dua setengah tahun yang lalu. Ayah dan Ibu
adalah Warga Republik ini namun mereka berbeda suku. Ayah berasal dari Suku
Makassar sedangkan Ibu dari Suku Bugis. Lebih jelasnya Ayah orang Jeneponto dan
Ibu orang Barru. Setelah waktu kelahiranku berada di ambang, Ibu minta mufakat
agar aku terlahir di kampung dimana Ibu tumbuh dewasa. Rencana tidak sesuai
realisasi Tuhan bermaksud lain aku harus terlahir di Kota lain dimana wajib
melalui tahapan administrasi. Identitas Kependudukan dan domisili harus terbit
dimana Ibu tinggal saat itu sedangkan Ibu hanya punya KTP dan Kartu Keluarga
yang terbit di kota kelahiran ayah, yaah Ayah terus saja bersabar dan hampir pasrah. Namun ayah punya tekad kuat
bahwa Allah tidak akan menguji hambanya diluar dari kemampuannya. Itulah
prinsip yang dipegang ayah. Ayah teringat dengan Buku Akta Nikah yang dibawa
ibu, hanya dengan buku itu bisa dijadikan bukti autentik kewargaan ibu serta
dibantu oleh sepupu nenek yang kebetulan aparat Pemerintah Desa dan akhirnya
masalah administrasi tuntas tanpa masalah.
Waktu demi waktu terus bergulir, Hari berganti hari, aku
dirawat oleh bidan cantik dan tangan-tangan professional hingga satu minggu
lamanya. Mungkin tidak percaya selama satu minggu aku dirawat disana, ternyata
Allah memberikan kemudahan dibalik kesulitan yang diujikan sebelumnya. Ayah
hanya membayar tiga puluh satu ribu rupiah dari angka yang tertera pada layar
computer Billing System Rp. 30.629,-. Begitu jauh dari perkiraan ayah. Sebelumnya ayah berprediksi bahwa biaya
yang akan dikeluarkan sekitar tiga jutaan, itulah salah satu keajaiban Tuhan
yang Maha Kuasa.
Minggu berganti minggu, aku pun diboyong Ibu ke kampung
halaman dimana Nenek dan Kakek (orangtua Ibunda) tinggal, disana kegembiraan
keluargaku semakin bertambah, aku pun senang bermain dengan canda tawa mereka.
Mereka gemas membuat aku tertawa,
terkadang pula rindu dengan tangisanku yang indah, maklum tangisan bayi kan
indah kedengaran hingga membuat mereka makin tertawa terbahak-bahak. Dikampung
ini aku dipiara Ibu walau ayah terkadang tidak di sampingku. Ayah yang selalu
pulang balik ke kampung halamannya mencari Nafkah buat aku. Aku terkadang Iba
pada ayah. Ayah yang punya pekerjaan yang tidak tetap. Ayah hanya seorang
karyawan honorer yang mengajar di sebuah Sekolah Dasar di tanah kelahirannya.
Beliau hanya punya uang menjelang satu semester kemudian jika ada pembayaran
insentif buat tenaga honorer. Enam ratus ribu rupiah itulah nominal yang ibu
irit selama tujuh bulan kemudian.
Ayah adalah lulusan sarjana sebuah Universitas di kota
Makassar. Beliau berijazah tarbiyah Pendidikan
Agama Islam jadi sebenarnya ayah adalah seorang ustad, namun penampilan ayah
tidak relevan dengan pendidikannya. Bakat ayah adalah seorang seniman, beliau
adalah pelukis kondang di kota kabupaten dimana ayah tumbuh dewasa, ayah juga
pelantun Music Metal Underground. Bandnya berdiri sejak tahun 2004 yang beliau
bentuk sendiri dan memberinya nama Kerempeng namun sebelumnya ayah juga
pernah menjadi personel band-band pelajar yang masih beraliran Thrash Metal dan
Black Metal seperti Skeleton Corpse, Goblok Band. Sekarang ayah tak lagi
menggeluti dunia itu. Walau aktivitas ayah sedemikian banyak tapi ayah tak punya manajemen keuangan yang tetap.
Ibu juga lulusan Strata satu sebuah Universitas Islam di kota
Makassar namun beda Kampus dengan ayah. Ibu juga masih nganggur sekarang, habis
ibu harus merawat aku hingga tumbuh besar nanti sampai aku bisa berjalan dan
urus diri sendiri. Otak ayah dan Ibu sebenarnya bisa diandalkan namun untuk
bekerja di negeri ini begitu sulit, pelamar harus mengeluarkan rupiah yang
mungkin ayah dan ibu tidak sanggup. Yaah mungkin kelak aku bisa bantu ayah dan
ibu.
Ciiiiluuuuk Baaah…!!! Itulah kata dan ekspresi wajah yang tiap
saat ayah dan ibu serta keluargaku yang lain setiap ingin membuat aku
tersenyum, tertawa dan melafalkan kata yang aku belum tahu artinya . Terkadang
mereka juga memutar lagu-lagu Islami milik Wafiq Azizah dan Sulis lewat
handphone Ibu yang sudah usang dengan maksud agar aku bisa tenang dan
tertidur. Setelah satu bulan kemudian
acara Aqiahku pun berlangsung, Syukuran, Selamatan dan tradisi potong rambut
untuk aku. Ibu mengundang handaitaulan untuk merayakan Acara tersebut, dua ekor
kambing jantan yang besarnya lumayan yang pemotongannya dilakukan oleh Bapak
Haji salah seorang tokoh pemuka agama sekaligus Imam Masjid di kampung Ibu.
Pemotongan dua ekor kambing itu sebagai symbol membuang sifat-sifat yang
dimiliki oleh kambing terhadap diri aku
kelak. Sebagaimana yang dilakukan Rasulullah SAW terhadap anaknya Hasan dan
Husain.
Acara Aqiahku berlangsung cukup ramai, berbondong-bondong
handaitaulan datang memberikan doa buat
aku, bahkan keluarga-keluarga yang tak sempat kebagian undangan berdatangan
pula, Nenek, tante dan sepupu dari
keluarga ayah pun jauh-jauh dari kampung juga datang memberikan doa buat aku.
Tradisi Rate’ berkumandang begitu
menggema, Asraka albadru alaina…… aku
digendong Nenek mengelilingi pemuka agama
yang sedang mengumandangkan Nyanyian Rasulullah itu sambil menggunting
rambutku beberapa helai lalu dimasukkann kedalam lobang buah kelapa muda yang
telah disiapkan sebelumnya. Ada tradisi yang lebih seru, Maddebbang namanya, acara bikin pagar yang luasnya satu meter
persegi dan tingginya sekitar satu setengah meter berbentuk segi lima. Pagar
yang terbuat dari bambu ini tanpa menggunakan paku dibuat oleh kaum Adam yang
datang. Mereka beramai-ramai ada yang mengukur, memotong menggunakan gergaji,
membelah bamboo dan ada yang memasangnya sehingga berbentuk bangun. Pagar itu
kemudian dipasang dimana kantong lahirku ditanam.
Dengan doa-doa dan tradisi adat budaya orang bugis melengkapi
acara aqikahq. Aku kini masih dalam buaian dan pangkuan ibu. Aku kelak berharap
bisa membantu Ayah dan Ibu untuk membalas secebis kasih sayangnya kepadaku. “Allahummagfirli Wali-walidayya Warhamhuma
Kamaa Robbayani Saghiro”amiin. Aku tahu kalau aku adalah buah hati ibu yang
bertahun-tahun diidam-idamkan, dalam setiap doanya.
Pelita hidupku
Penerang Hatiku
Belahan Jiwaku
Engkau Matahariku
Ibu……
Ibu Senandung Laguku
Kunyanyikan selalu untukkmu
Engkau penyejuk hatiku
Tanpamu tiadalah aku
Ibu…Ibu…Ibu….
Ku selalu mohon doamu
Bahagian hidup Matiku
Ibu Kaulah harapanku
Tanpamu tiadalah aku
Ibu…Ibu…Ibu….
Surga di telapak kakimu
Ridho Allah dengan ridhomu
Begitulah sabda nabiku
Begitulah lantunan lagu
milik Sulis yang selalu Ibu putar setiap
membuai aku dalam ayunan, lewat handphonenya atau laptop milik ayah yang
dibeli kakek saat ayah masih kuliah beberapa tahun silam. Lagu itu cukup
membuat hatiku terkesima, betapa berat perjuangan seorang ibu kepada kita tanpa
beliau aku atau kita mungkin tidak ada di dunia ini, terasa sekejap saja ingin
dewasa, agar aku bisa membantu Ayah dan
Ibu yang kini tinggal masih numpang sama rumah kakek dan nenek. Kasihan juga
kakek yang tak mengenal waktu, siang dan malam bekerja keras mengurus sawah dan
tanaman padinya hanya buat hidupin anaknya terutama aku, cucu yang begitu dirindukan habis ibu
adalah anak dari kakek dan nenek yang pertama berkeluarga diantara
saudara-saudaranya.
Lahirnya di Kota Pare… Mamanya orang Barru…Bapaknya Jeneponto…Kok..Bisa
Logat !!!???
Bungeng Jeneponto, 15 Mei 2014
Oleh Munassir, S.PdI
