Jumat, 02 Oktober 2015

Cerpen orang Bungeng Jeneponto

PERJUANGAN BELIAU UNTUK AKU

ASSABIQUNAL AWWALUN itulah namaku,  Nama pemberian orangtuaku, nama yang mempunyai arti Orang-orang Pertama masuk Islam. Ayah memilih nama ini karena menurut beliau  Assabiqunal punya sejarah yang menarik tentang perjuangan kaum Muslimin pada zaman Rasululullah SAW. Ayah pun memberikan symbol ini kepadaku dengan harapan agar kelak aku bisa seperti mereka yang dijelaskan dalam kisah itu antara lain Abu Bakar Assiddiq, Umar bin Khatab, Aisyah.ra, St. Khadijah dan beberapa pengikut Rasulullah yang lain. mungkin orang-orang kebingungan harus memanggil saya dan menyebut namaku yang kepanjangan itu.


Aku cukup dipanggil UNA. Aku lahir di Kota Parepare, Sulawesi Selatan tempat kelahiran Presiden Republik Indonesia yang ketiga Bapak Baharuddin Jusuf  Habibie. Aku melihat dunia ini pertama kali di Kota tersebut tepatnya di Rumah Sakit Type C Andi Makkasau pada tanggal 14 April 2014. Anehnya walau ketuban ibuku pecah di Kampung halaman selama lima belas jam dan sempat dirawat di Puskesmas Palakka Kabupaten Barru. Sejak pukul 09.15 pembukaan kelahiranku telah sampai pada pembukaan terakhir disiang itu tanggal 13 April 2014 namun tanda-tanda untuk melewati pintu antara alam rahim ibu dengan dunia ini tak membuahkan hasil apa-apa dan akhirnya Ibu pun dirujuk ke  Kota Parepare yang jaraknya limapuluh kiloan dari Puskesmas  kampung halaman.
Dengan Ambulance Puskesmas didampingi dua orang bidan dan beberapa orang dari keluargaku Nenek, Buyut, Tante dan Ayahku, Ibu dilajukan ke Rumah Sakit Andi Makkasau di Kota Parepare, Sekitar Pukul 22.00 setelah sampai disana sepuluh menit kemudian aku terlahir dengan selamat. Senyum keluargaku mulai tergurat di pipinya, Sang Ayah pun ikut tersenyum dan Ibu bidan pun mempersilahkan Ayah untuk mengadzani aku. Sebagai orang muslim Adzan itu wajib dikumandangkan bagi bayi yang baru lahir seperti aku agar kelak jika si bayi beranjak dewasa dapat jadi orang berguna, penurut dan taat ibadah kepada sang pencipta yakni Allah SWT. Setelah Adzan ayah pun meniupkan doa ke telinga kananku dan Bacaan Iqomah di telinga  kiriku. Karena Allah punya sifat Jaiz (berkeinginan), walaupun keluargaku dan handaitaulan pada saat itu berharap aku terlahir di kampung halaman namun Tuhan berkata lain aku harus terlahir bukan dimana aktifitas keluargaku melainkan di Kota lain padahal Ibu pernah berprediksi aku rencana dilahirkan di Kampung dimana ada bidan yang akan membantu persalinan ibuku.
Sempat pula Ayah dan Ibu kebingungan jika harus lahir setelah dirujuk ke Kota lain, masalahnya apa ?. hanya menyagkut soal administrasi Instansi. Ayah dan Ibu menikah dua setengah tahun yang lalu. Ayah dan Ibu adalah Warga Republik ini namun mereka berbeda suku. Ayah berasal dari Suku Makassar sedangkan Ibu dari Suku Bugis. Lebih jelasnya Ayah orang Jeneponto dan Ibu orang Barru. Setelah waktu kelahiranku berada di ambang, Ibu minta mufakat agar aku terlahir di kampung dimana Ibu tumbuh dewasa. Rencana tidak sesuai realisasi Tuhan bermaksud lain aku harus terlahir di Kota lain dimana wajib melalui tahapan administrasi. Identitas Kependudukan dan domisili harus terbit dimana Ibu tinggal saat itu sedangkan Ibu hanya punya KTP dan Kartu Keluarga yang terbit di kota kelahiran ayah, yaah Ayah terus saja bersabar  dan hampir pasrah. Namun ayah punya tekad kuat bahwa Allah tidak akan menguji hambanya diluar dari kemampuannya. Itulah prinsip yang dipegang ayah. Ayah teringat dengan Buku Akta Nikah yang dibawa ibu, hanya dengan buku itu bisa dijadikan bukti autentik kewargaan ibu serta dibantu oleh sepupu nenek yang kebetulan aparat Pemerintah Desa dan akhirnya masalah administrasi tuntas tanpa masalah.
Waktu demi waktu terus bergulir, Hari berganti hari, aku dirawat oleh bidan cantik dan tangan-tangan professional hingga satu minggu lamanya. Mungkin tidak percaya selama satu minggu aku dirawat disana, ternyata Allah memberikan kemudahan dibalik kesulitan yang diujikan sebelumnya. Ayah hanya membayar tiga puluh satu ribu rupiah dari angka yang tertera pada layar computer Billing System Rp. 30.629,-. Begitu jauh dari perkiraan  ayah. Sebelumnya ayah berprediksi bahwa biaya yang akan dikeluarkan sekitar tiga jutaan, itulah salah satu keajaiban Tuhan yang Maha Kuasa.
Minggu berganti minggu, aku pun diboyong Ibu ke kampung halaman dimana Nenek dan Kakek (orangtua Ibunda) tinggal, disana kegembiraan keluargaku semakin bertambah, aku pun senang bermain dengan canda tawa mereka. Mereka gemas  membuat aku tertawa, terkadang pula rindu dengan tangisanku yang indah, maklum tangisan bayi kan indah kedengaran hingga membuat mereka makin tertawa terbahak-bahak. Dikampung ini aku dipiara Ibu walau ayah terkadang tidak di sampingku. Ayah yang selalu pulang balik ke kampung halamannya mencari Nafkah buat aku. Aku terkadang Iba pada ayah. Ayah yang punya pekerjaan yang tidak tetap. Ayah hanya seorang karyawan honorer yang mengajar di sebuah Sekolah Dasar di tanah kelahirannya. Beliau hanya punya uang menjelang satu semester kemudian jika ada pembayaran insentif buat tenaga honorer. Enam ratus ribu rupiah itulah nominal yang ibu irit selama tujuh bulan kemudian.
Ayah adalah lulusan sarjana sebuah Universitas di kota Makassar. Beliau berijazah  tarbiyah Pendidikan Agama Islam jadi sebenarnya ayah adalah seorang ustad, namun penampilan ayah tidak relevan dengan pendidikannya. Bakat ayah adalah seorang seniman, beliau adalah pelukis kondang di kota kabupaten dimana ayah tumbuh dewasa, ayah juga pelantun Music Metal Underground. Bandnya berdiri sejak tahun 2004 yang beliau bentuk sendiri dan memberinya nama Kerempeng namun sebelumnya ayah juga pernah menjadi personel band-band pelajar yang masih beraliran Thrash Metal dan Black Metal seperti Skeleton Corpse, Goblok Band. Sekarang ayah tak lagi menggeluti dunia itu. Walau aktivitas ayah sedemikian banyak tapi  ayah tak punya manajemen keuangan yang tetap.
Ibu juga lulusan Strata satu sebuah Universitas Islam di kota Makassar namun beda Kampus dengan ayah. Ibu juga masih nganggur sekarang, habis ibu harus merawat aku hingga tumbuh besar nanti sampai aku bisa berjalan dan urus diri sendiri. Otak ayah dan Ibu sebenarnya bisa diandalkan namun untuk bekerja di negeri ini begitu sulit, pelamar harus mengeluarkan rupiah yang mungkin ayah dan ibu tidak sanggup. Yaah mungkin kelak aku bisa bantu ayah dan ibu.
Ciiiiluuuuk Baaah…!!! Itulah kata dan ekspresi wajah yang tiap saat ayah dan ibu serta keluargaku yang lain setiap ingin membuat aku tersenyum, tertawa dan melafalkan kata yang aku belum tahu artinya . Terkadang mereka juga memutar lagu-lagu Islami milik Wafiq Azizah dan Sulis lewat handphone Ibu yang sudah usang dengan maksud agar aku bisa tenang dan tertidur.  Setelah satu bulan kemudian acara Aqiahku pun berlangsung, Syukuran, Selamatan dan tradisi potong rambut untuk aku. Ibu mengundang handaitaulan untuk merayakan Acara tersebut, dua ekor kambing jantan yang besarnya lumayan yang pemotongannya dilakukan oleh Bapak Haji salah seorang tokoh pemuka agama sekaligus Imam Masjid di kampung Ibu. Pemotongan dua ekor kambing itu sebagai symbol membuang sifat-sifat yang dimiliki oleh kambing  terhadap diri aku kelak. Sebagaimana yang dilakukan Rasulullah SAW terhadap anaknya Hasan dan Husain.
Acara Aqiahku berlangsung cukup ramai, berbondong-bondong handaitaulan datang  memberikan doa buat aku, bahkan keluarga-keluarga yang tak sempat kebagian undangan berdatangan pula, Nenek, tante dan sepupu  dari keluarga ayah pun jauh-jauh dari kampung juga datang memberikan doa buat aku. Tradisi Rate’ berkumandang begitu menggema, Asraka albadru alaina…… aku digendong Nenek mengelilingi pemuka agama  yang sedang mengumandangkan Nyanyian Rasulullah itu sambil menggunting rambutku beberapa helai lalu dimasukkann kedalam lobang buah kelapa muda yang telah disiapkan sebelumnya. Ada tradisi yang lebih seru, Maddebbang namanya, acara bikin pagar yang luasnya satu meter persegi dan tingginya sekitar satu setengah meter berbentuk segi lima. Pagar yang terbuat dari bambu ini tanpa menggunakan paku dibuat oleh kaum Adam yang datang. Mereka beramai-ramai ada yang mengukur, memotong menggunakan gergaji, membelah bamboo dan ada yang memasangnya sehingga berbentuk bangun. Pagar itu kemudian dipasang dimana kantong lahirku ditanam.
Dengan doa-doa dan tradisi adat budaya orang bugis melengkapi acara aqikahq. Aku kini masih dalam buaian dan pangkuan ibu. Aku kelak berharap bisa membantu Ayah dan Ibu untuk membalas secebis kasih sayangnya kepadaku. “Allahummagfirli Wali-walidayya Warhamhuma Kamaa Robbayani Saghiro”amiin. Aku tahu kalau aku adalah buah hati ibu yang bertahun-tahun diidam-idamkan, dalam setiap doanya.


Pelita hidupku
Penerang Hatiku
Belahan  Jiwaku
Engkau Matahariku
Ibu……
Ibu Senandung Laguku
Kunyanyikan selalu untukkmu
Engkau penyejuk hatiku
Tanpamu tiadalah aku




Ibu…Ibu…Ibu….
Ku selalu mohon doamu
Bahagian hidup Matiku
Ibu Kaulah harapanku
Tanpamu tiadalah aku
Ibu…Ibu…Ibu….
Surga di telapak kakimu
Ridho Allah dengan ridhomu
Begitulah sabda nabiku







Begitulah lantunan lagu milik Sulis yang selalu Ibu putar setiap  membuai aku dalam ayunan, lewat handphonenya atau laptop milik ayah yang dibeli kakek saat ayah masih kuliah beberapa tahun silam. Lagu itu cukup membuat hatiku terkesima, betapa berat perjuangan seorang ibu kepada kita tanpa beliau aku atau kita mungkin tidak ada di dunia ini, terasa sekejap saja ingin dewasa, agar aku bisa  membantu Ayah dan Ibu yang kini tinggal masih numpang sama rumah kakek dan nenek. Kasihan juga kakek yang tak mengenal waktu, siang dan malam bekerja keras mengurus sawah dan tanaman padinya hanya buat hidupin anaknya terutama  aku, cucu yang begitu dirindukan habis ibu adalah anak dari kakek dan nenek yang pertama berkeluarga diantara saudara-saudaranya.

Lahirnya di Kota Pare… Mamanya orang Barru…Bapaknya Jeneponto…Kok..Bisa Logat !!!???

Bungeng Jeneponto, 15 Mei 2014

Oleh Munassir, S.PdI